Senin, 29 September 2008

LCD versus PLASMA TV....2

Selain teknologi layar TV menghadirkan layar datar LCD, juga dikembangkan teknologi TV plasma. Awalnya saya berpikir itu hanya jenis lain teknologi LCD, tapi teringat dengan cerita sains fiksi Star Trek di mana banyak diperkenalkan kosakata plasma seperti pada warp drive atau torpedo plasma yang terpasang berderet pada lambung kapal Enterprise –iya kapal, bukan pesawat!– saya jadi berpikir –dan mencari-cari– lagi apa sebenarnya arti plasma dalam ilmu fisika.

Kata plasma kita kenal sebagai istilah dalam ilmu hayati, terdapat dalam darah sebagai cairan di antara sel-sel darah, atau pada makhluk bersel tunggal sebagai cairan pengisi selnya. Lalu, apa artinya dalam ilmu fisika? Mari kita mengenal bintang terdekat kita, yaitu matahari, sebagai pengantar pemahaman yang lebih praktis, ilmiah dan alamiah, yang tentu lebih sederhana untuk dicerna daripada bualan tentang TV plasma yang tak terbeli.




Kita mulakan langsung saja dari atmosfer matahari, yaitu korona, selubung matahari yang berisi kumpulan gas yang terionisasi. Lapisan korona ini jauh lebih panas dari permukaan matahari itu sendiri, penyebabnya masih diperdebatkan oleh para ilmuwan. Dari permukaan korona ini muncul semburan-semburan yang disebut Solar flares. Semburan ini juga menyebabkan ledakan yang kemudian disebut Coronal Mass Ejection (CME).

Baik Solar flares maupun CME bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sekitar satu juta km/jam. Angka ini mendekati kecepatan cahaya, terjadi karena ledakan di atas dan membawa serta ion-ion Hidrogen, Helium dan atom unsur lain yang lebih berat. Kumpulan ion-ion gas inilah yang disebut plasma. Seperti halnya dalam larutan garam, kumpulan ion-ion tersebut –atau muatan plasma– menjadi konduktif, dan sangat responsif terhadap medan elektromagnetik. Bisa dikatakan korona matahari adalah gudangnya plasma, dan disemburkan tanpa henti ke segala arah hingga batas tata surya (heliosfer).

Muatan plasma yang berkecepatan mendekati cahaya ini tentulah berbahaya bagi kita, namun kenapa kita tidak merasakan peluru-peluru plasma tersebut menghujam tubuh kita? Apakah atmosfer kita kuat menahan serangan plasma dari matahari tersebut, sedangkan meteor saja yang kecepatannya jauh lebih rendah dari cahaya ada yang tidak habis terbakar dan mendarat di bumi?

Dulu kala ilmuwan menggagas bahwa bumi ini adalah sebuah magnet besar, dengan dua kutub magnetik utara dan selatan, selain kutub rotasi sebagai sumbu bumi ini berputar menjadikan malam dan siang. Temuan-temuan ilmiah terus berlanjut hingga pada pertengahan abad ke-20 digagaskan sebuah konsep magnetosfer, sebuah medan magnetik yang menyelubungi bumi di sebelah luar atmosfer. Magnetosfer inilah yang melindungi kehidupan bumi dari serangan plasma matahari. Jarak magnetosfer yang menghadap matahari kira-kira 70.000km dari inti bumi.



Kita mengenal ionosfer sebagai lapisan terluar atmosfer bumi ini. Ionosfer inilah tempat terjadinya ionisasi oleh magnetik bumi. Plasma yang terbentuk dari ionosfer ini menahan semburan plasma matahari hingga terjadi badai plasma di wilayah yang disebut bow shock. Kejutan karena tumbukan muatan plasma ini berhenti di magnetopause dan plasma matahari mengalir seterusnya hingga ke batas tata surya. Bumi yang berputar, bergerak serta tumbukan dan aliran plasma membuat magnetosfer tidak berbentuk bola, tapi seperti kepala peluru pada bagian bumi yang menghadap matahari dan membuat medan magnetik berbentuk ekor memanjang di bagian yang membelakangi matahari. Fenomena seperti ini kita temukan juga dalam bentuk komet yang berekor.


Proses aliran di magnetopause ini belumlah selesai. Tentunya anda mengenal garis medan magnet, begitu pula dengan magnet dipol bumi yang berkutub utara dan selatan yang terus berputar. Di wilayah kutub ini terjadi proses kedua yang disebut Magnetic reconnection. Peristiwa inilah yang menampakkan fenomena Aurora kutub, yaitu Aurora Borealis di kutub utara dan Aurora Australis di kutub selatan.

Jika magnetosfer melindungi bumi dari plasma matahari, maka plasma matahari yang bergerak terus tersebut –sering disebut angin matahari– membentuk heliosfer yang melindungi tata surya ini dari plasma dan energi kosmik dari luar sistem tata surya. Mungkin suatu saat Voyager masih mampu memberi kabar ada apa di sebelah luar tata surya ini dan memberikan gambaran yang lebih jelas bagaimana tata surya ini dilihat dari luar heliosfer. Sangat rumit sekaligus sempurna angkasa raya ini diciptakan dalam keteraturan. Subhanallah.


Fenomena plasma ini terjadi di mana-mana di antara benda-benda langit, seperti medium di antara planet (interplanetary), medium di antara sistem (interstellar) dan medium antar galaksi (intergalactic). Namun saat ini wacana tersebut terlalu mengawang-awang bagi kita yang bukan ilmuwan, tapi juga memberi keasikan tersendiri bagi anda yang suka dengan dunia sains fiksi Star Trek.

Kita lihat yang lebih dekat saja. Fenomena energi plasma memberikan kejadian alam yang sering kita saksikan sebagai sesuatu yang mengerikan, yaitu petir. Mengerikan membayangkan energi listrik meledak di udara yang cukup dekat dengan kita, manusia yang menapak tanah. Mengerikan membayangkan pesawat yang kita tumpangi tersambar petir, meskipun masih aman karena pesawat dirancang menjadi sangkar Faraday. Juga mengerikan saat melihat pohon kelapa hangus karena tersambar petir. Imbas elektrik petir pun sangat berbahaya bagi peralatan mikroelektronik dan bahkan suara ledakan petir pun sering ditakuti meskipun tidak membahayakan.

Apakah fenomena alam energi plasma berbentuk petir ini berguna bagi kehidupan kita secara langsung? Entahlah, yang jelas tak ada profesi pemburu petir. Dalam film fiksi “Van Helsing” Dracula menghimpun kekuatan petir untuk menghidupkan vampire-vampire-nya, sedangkan dalam film komedi “Young Einstein” Einstein, seorang manusia Australia –berwajah ilmuwan Albert Einstein– yang menemukan metoda pengolahan bir di ladang gandumnya menghimpun energi petir untuk gitar listriknya. Sungguh absurd, namun itulah kelucuan dunia komedi.

Kita lihat yang lebih dekat lagi, yaitu propulsi mesin roket, juga adalah bentuk artifisial energi plasma. Ah masih terlalu jauh! Yang lebih dekat lagi, beberapa meter di atas kepala anda, yaitu lampu neon (meskipun bukan dibuat dari gas Neon), juga adalah sebuah energi plasma yang dibuat manusia. Dan teknologi mutakhir yang mulai diperkenalkan sebagai (simbol) perlengkapan rumah (mewah), yaitu TV plasma.


Sesuai namanya, TV plasma merupakan teknologi TV layar datar yang dihasilkan dari emisi cahaya fosfor yang dilepaskan dari energi plasma buatan untuk setiap titik pixel-nya. TV plasma memberikan kelebihan yang cukup signifikan dibandingkan dengan layar datar LCD, yaitu emisi cahaya fosfor yang mampu memberikan warna hitam sempurna (pure black), warna lainnya yang lebih terang. warna yang lebih konsisten daripada LCD, rasio kontras yang lebih baik, dan respon pergantian warna yang lebih cepat. Secara fisik TV plasma memberikan kelebihan berupa ukuran layar lebih besar dengan ketebalan sekecil-kecilnya (slim). Namun teknologi ini tentunya tak lepas dari kekurangan, meski teknologi LCD pun terus ditingkatkan. Kekurangan yang utama adalah  lebih mahal dari teknologi LCD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar