Pendinginan dengan evaporative cooling
mempunyai sejarah yang panjang, jauh lebih tua dari pendinginan dengan
menggunakan refrigeran buatan www.wescorhvac.com/index.htm.
Mekanisme terjadinya evaporative cooling diperlihatkan seperti pada gambar 1.
Air sebagai refrigeran diteteskan ke dalam kotak. Dari arah kiri, dihembuskan
udara sehingga terjadi penguapan (evaporasi) air yang ada di box. Akibat
penguapan air, terjadi penyerapan kalor dari udara yang dihembuskan, sedemikian
sehingga diperoleh udara keluaran yang lebih dingin. Pada direct evaporative
cooling, udara yang dihembuskan langsung berhubungan dengan udara luar,
sebaliknya pada indirect evaporative cooling, udara luar dilewatkan heat
exchanger, selanjutnya heat exchanger menyalurkan panas pada sistem. Mekanisme
terjadinya evaporative cooling adalah karena lepasnya molekul air dari
ikatannya. Terlepasnya molekul air tersebut dipicu dengan semakin sedikitnya
jumlah molekul air di udara pada saat tekanan parsial uap air di udara belum
memcapai kejenuhan. Dengan demikian, evaporative cooling ini akan berfungsi
baik bila tekanan uap air di udara rendah, dan terhenti bila tekanan uap air
sudah mencapai kejenuhan karena terjadinya kesetimbangan.
Gambar 1: Proses dari direct
evaporative dan indirect Evaporative Cooling
Agar proses evaporasi tetap
berlangsung, meskipun pada kondisi udara luar jenuh, perlu dilakukan modifikasi
yakni dengan menurunkan tekanan udara dalam mesin pendingin. Mekanisme tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut : Pada tekanan yang rendah, tiap material akan
mendekati kelakuan gas ideal, tetapi semakin menyimpang dari gas ideal bila
suhu dan tekanan tinggi. Jika suhu diturunkan dan tekanan dinaikkan, maka gas
akan berubah fasa dari gas ke cair atau padat, sebaliknya, bila tekanan
diturunkan, maka material akan berubah fasa dari cair ke gas, atau bahkan dari
padat langsung ke gas. Perubahan fasa yang terkait dengan perubahan suhu (T),
tekanan (P), dan volume (V) ini, untuk material sembarang, sulit sekali
dirumuskan. Meskipun demikian, karakteristik perubahan fasa terhadap P, V, dan
T masih mungkin ditampilkan, berdasarkan data eksperimen, grafik yang
menghubungkan kesetaraan antara tekana , suhu, dan volume dalam kaitannya
dengan perubahan fasa dari materi disebut dengan permukaan PVT.
Grafik
ini merupakan grafik 3 dimensi, dan karenanya sulit dipahami 1. Karenanya, untuk
memudahkan penafsiran dan lebih aplikatif, biasanya dibuat penyederhanaan dalam
tampilan dua dimensi saja, yakni pasangan (P,T), dan (P,V). Tiap material
mempunyai karakteristik permukaan (P,T) yang berbeda-beda. Untuk air, permukaan
(P,T) dapat dilihat seperti pada gambar 2.
Gambar 2: Perubahan fasa air terhadap
suhu dan tekanan,
Tampak jelas dari gambar diatas bahwa
fasa cair dapat diubah langsung ke fasa gas dengan cara menurunkan tekanan gas
dan hal ini juga berlaku sebaliknya. Dengan demikian, meski pada kelembaban
udara luar maksimum, karena beda tekanan negatif gas yang mengisi mesin
pendingin dengan udara luar, penguapan masih mungkin dilakukan. Mekanisme ini
menjadi dasar dari mesin pendingin udara yang dibuat.
Tekanan dan Proses Penguapan Udara
dan Tekanan Udara kering tersusun atas nitrogen, oksigen, karbon dioksida,
argon, dan lain-lain. Persentase volume oksigen dalam udara kering mencapai
21%, sedangkan persentase massanya mencapai 23,15% (Encarta Encyclpedia, 2002).
Disamping unsure-unsur diatas, udara juga berisi uap air. Kadar uap air dalam
udara disebut kelembaban udara. Molekul-molekul udara kering dan uap air
membentuk gas yang mengisi atmosfer. Sebagai gas riil, gas-gas di udara
memiliki sifat-sifat yang tidak jauh beda dengan gas ideal (keenan, 1998). Atas
dasar ini udara dapat dianggap sebagai gas ideal, sehingga hukum-hukum yang
berlaku pada gas ideal berlaku pula pada udara. Konsentrasi gas di dalam udara
bisa naik atau menurun di sebabkan oleh faktor ketinggian, setiap peningkatan
ketinggian 100 meter akan terjadi penurunan tekanan atmosfer sebesar 6- 10 mmHg
/ turun 7 mmHg per 100 meter. Udara murni mengandung : N2, O2, O3, A, CO2, He,
Ne, Xe, Kr, CH4, NH3, H2S, CO dan N2O. Makin dingin temperatur air makin besar
kelarutan oksigen di dalam air
Persamaan keadaan untuk gas ideal
dirumuskan : (1) dimana : P : Tekanan absolut N/m2 V : Volume system m3 n :
Jumlah mol gas R : Konstanta gas T : Suhu Absolut
Sedangkan hubungan antara jumlah mol
n dengan massa adalah : Kehadiran gas menimbulkan tekanan terhadap permukaan
yang menyelimutinya. Teori kinetik gas menyatakan bahwa tekanan gas ekivalen
dengan total momentum yang dipindahkan ketika partikel-partikel menumbuk
permukaan (Delchar 1993). Gaya yang disebabkan tekanan fluida selalu bekerja
tegak lurus terhadap permukaan yang bersentuhan dengannya. Benda 3 dimensi yang
dikenai gaya akibat selisih tekanan udara akan mengalami tegangan tekan.
Tegangan tekan digunakan dalam menyatakan kekuatan suatu bahan. Notasi untuk
tegangan tekan adalah (sigma), sedangkan satuannya sama dengan satuan tekanan.
Tegangan tekan dirumuskan sebagai berikut :
Dimana adalah gaya tekan yang bekerja
pada benda, dan A luasan yang dikenai gaya. Tegangan tekan dapat memperpendek
benda obyek gaya. Besarnya pemendekan atau Dimana : L = Panjang mula-mula benda
(m) E = Modulus elastisitas.
Proses Terjadinya Penguapan Molekul
zat cair dalam keadaan diam dimana terdapat tarik-menarik dan tolak-menolak ;
gaya tarik menarik maupun tolak–menolak dalam keadaan setimbang. Pada molekul
zat cair terdapat energi kinetik dan energi potensial dalam keadaan setimbang
pula. Namun energi kinetik merupakan fungsi terhadap temperatur.
Gambar .3 : Proses evaporasi pada
thermometer bola basah
Apabila zat cair dipanaskan, energi
kinetik yang terdapat pada molekul yang berada pada permukaan zat cair akan
bertambah sehingga molekul zat cair akan terlepas dan timbul uap. Jumlah kalor
yang diserap oleh refrigeran dari benda atau fluida yang hendak didinginkan :
K = Koef Perpindahan Panas (Kcal/m2
0C) A = Luas Bidang perpindahan panas (m2) Salah satu faktor yang menentukan
besarnya koefisien perpindahan panas adalah kecepatan aliran fluida atau benda
yang hendak didinginkan ( “ Penyegar udara Aris Munandar & Avisato 155”).
Disamping itu, makin besar jumlah benda (yang hendak didinginkan) menempel atau
dekat pada bidang pendingin, makin besar koefisien perpindahan panasnya. Udara
yang berada di ruang AC temperatur berkisar -100 C s/d 500 C (dianggap gas
ideal ) ; Cp = 1,005 Kj/Kg 0K .Udara Pada suhu 300 C dapat mengandung uap air sebanyak
30 gram uap air/m3 pada 200 C mengandung 17 gr uap air. Kalor jenis ( C )
adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 mol zat sebesar satu
derajat .
Dasar-dasar
Vakum Vakum diartikan hampa atau tidak ada molekul
materi dalam ruang. Vakum sempurna berarti sama sekali tidak ada atom/molekul
materi didalam ruang. Vakum sempurna tidak mungkin dicapai, sehingga definisi
vakum dianggap sebagai kondisi dimana tekanan udara lebih rendah dari tekanan
udara normal. Vakum dibagi menjadi vakum rendah, vakum tinggi, dan vakum ultra
tinggi. Vakum rendah untuk tekanan hingga 10-2 pascal, vakum tinggi untuk
kisaran tekanan 10-2 s.d.10 –7 pascal, dan vakum ultra tinggi untuk tekanan
lebih rendah dari 10-7 pascal (Isaacs ed, 1994). Dalam ilmu fisika dan teknik,
teknologi vakum didefinisikan sebagai proses atau peralatan yang bekerja
berdasar prinsip pemindahan kuantitas gas dari dalam tempat tertutup (Encarta
Encyclopedia, 2002). Aplikasi teknologi vakum sangat luas , terutama dalam
proses industri. Contohnya untuk mesin pendinginan udara yang akan dirancang
pada penelitian ini.
Semakin besar K, semakin banyak pula
panas yang dikonduksikan oleh bahan. Besaran lain adalah :
• Resistansi panas R = L/(k.A) (K/watt)
• Konduktansi panas C = 1/R = K.A/L .... (K/watt) Isolator mempunyai R >
agar menghambat usaha penghantaran panas melalui bahan tersebut.
Kalor sensible dan kalor laten Kalor
sensible bisa diukur dengan termometer sehingga kuantitas panas yang di butuhkan
untuk menaikkan atau menurunkan temperatur suatu bahan tanpa merubah wujudnya
bisa diukur , sesuai dengan persamaan di bawah ini :
Kalor laten merupakan perubahan wujud
yang diakibatkan panas laten. Kalor laten secara terminologinya adalah kalor
yang tersembunyi, tidak bisa diukur dengan termometer. Perubahan dari cair
menjadi padat disebut kalor laten fusion (Lf) membutuhkan energi 333 J/g atau 80
Cal/g , perubahan dari cair menjadi uap disebut kalor laten vapour (Lv)
membutuhkan energi -2500 J/g atau 600 Cal/g. perubahan dari uap air menjadi
cair disebut kalor laten kondensasi (Lc) membutuhkan energi 2500 J/g atau 600
Cal/g, sedangkan perubahan dari padat langsung ke uap disebut kalor laten
sublimasi (Ls) membutuhkan energi 2833 J/g atau 680 Cal/g.
Peralatan dalam Sistem Pendingin
Evaporative cooling
1.
Evaporator Fungsi dari evaporator adalah untuk
menyerap panas udara yang ada di dalam pipa-pipa oleh air yang lengket di luar
permukaannya, dengan penyerapan kalor laten udara, air berubah fase menjadi
uap. Uap air yang panas di buang keluar dengan bantuan pompa vakum Pada
evaporator mesin pendingin konvensional penguapan terjadi di dalam pipa-pipa heat
exchanger, refrigerant sebagai media pendingin udara (Freon) menyerap kalor
laten udara di permukaan luar pip evaporator. Uap freon yang panas tersebut di
dinginkan kembali di kondensor. Pipa-pipa evaporator biasanya terbuat dari
tembaga dengan konduktivitas thermal yang tinggi. Untuk memperbesar sifat
konduktivitasnya pipa di beri pelat logam tipis atu sirip. Sirip-sirip
memperluas permukaan evporator, sehingga dapat menyerap panas lebih
banyak.Sirip-sirip denga pipa hubunganya harus cukup baik untuk perpindahan
kalor. Tebal sirip dan jarak antaranya tergantung dari pemakaiannya untuk
maksud apa evaporator tersebut direncanakan. Besar diameter pipa menentukan
tebal siripnya. Pipa yang kecil diameternya memakai sirip yang tipis.
Pada
penelitian ini satu set kondensor mempunyai panjang pipa heat exchanger 1550
cm, luas sirip-sirip alumunium 30,5 cm x 6,5 cm sebanyak 92 buah lempengan.
Untuk memperluas bidang sentuh perpindahan panas, maka kondensor digabung
menjadi tiga set.
2. Pompa
vakum Untuk mengeluarkan gas dari sebuah wadah
digunakan pompa vakum. Ketika pompa vakum bekerja mengeluarkan udara, tekanan
akan turun akibat semakin sedikit molekul gas yang tertinggal. Konsekuensi dari
aktivitas pemompaan adalah terjadinya aliran gas. Terdapat bermacam-macam pompa
vakum dengan metode kerja yang berbeda. Pompa vakum diklasifikasikan menurut
level kevakuman yang dapat dicapai. Contohnya adalah pompa mekanik putar untuk
level vakum rendah sampai vakum tinggi, pompa difusi untuk level vakum tinggi,
dan pompa turbomolekuler untuk vakum ultra tinggi. Kecepatan pompa atau
merupakan besaran bernilai tetap yang menjadi karakteristik masing-masing
pompa. Sedangkan atau rerata aliran adalah besaran yang berubah selama pompa
bekerja. akan turun ketika tekanan dalam kalor system semakin rendah. Satuan
dan dalam SI adalah m3/s dan Pa-m3/s. dan menyusun persamaan pemompaan berikut
ini (Karrasik, 1986) :
dengan P adalah tekanan absolut dan V
adalah volume system.
3. Pompa Mekanik Putar Pompa mekanik
putar merupakan jenis pompa yang sederhana. Keuntungan pompa jenis ini berupa :
Kecepatan tinggi, murah, dan tahan lama (www.Photon.physics.ucf.edu, 2003).
Pompa mekanik putar mampu beroperasi dari tekanan udara normal. Ada dua tipe
pompa mekanik-putar, yaitu pompa oli putar dan pompa sentrifugal. Pompa oli
putar memiliki kinerja yang lebih baik karena laju aliran balik jauh lebih
kecil. Pompa oli putar digunakan untuk mencapai level vakum sampai 10-4 mmHg
(Giancoli, 1998). Bagian utama pompa terdiri dari sebuah system rotor dan
stator yang dibenamkan dalam oli. Langkah kerja pompa oli putar di mulai dengan
penjebakan udara masuk dalam ruang antara rotor dan stator. Rotor berbentuk
silinder asimetris akan berputar dan mendorong udara yang terjebak melalui
discharge valve. Fungsi oli dalam pompa oli putar untuk mencegah aliran balik.
Oli juga melumasi bagian-bagian yang berputar sehingga memperkecil efek
gesekan. Contoh pompa oli putar adalah kompressor untuk system pendingin udara
dan power steering. Pompa oli putar umumnya digerakkan oleh motor listrik arus
bolak-balik (AC). Sifat motor AC yang membutuhkan arus start besar sering
mengakibatkan fluktuasi tegangan. Untuk mengantisipasi fluktuasi tegangan,
biasanya digunakan kapasitor yang diparalel dengan motor AC (Petruzella, 2001)
4. Motor kipas Fan motor terdiri dari motor listrik yang salah satu ujung
porosnya meninjol keluar. Pada poros tersebut dapat ditambahkan daun kipas.
Gunanya untuk membuat sirkulasi udara di dalam mesin pendingin (turbulence)
atau membuang uap yang air yang panas keluar dari sistem. Motor yang dipakai
umumnya shaded-pole motor, 110 dan 220 volt, 50/60 Hz, putaran 2500/3000 ppm,
6-12 watt, 0,2-0,7 ampere. Poros motor untuk daun kipas mempunyai diameter 1/8
atau 3/16 inci. Putaran rotor ada yang searah jarum jam. Arah putaran shaded
pole motor sebenarnya mudah diketahui dengan melihat letak lilitan
penghalangnya. Apabila dilihat dari bagian atas, lilitan penghalang berada di
sebelah kiri, rotor akan berputar dari kiri kekanan. Daun kipas terbuat dari
plastik atau alumunium. Bentuknya ada dua macam : daun kipas (propeller) dan
roda blower (blower wheel). Daun kipas mempunyai diameter 4 – 5 inci. Jumlah
daun 4 atau 5 buah dengan kemiringan 30 derajat. Aliran udara mengalir secara
aksial atau sejajar poros. Jarak antara kipas dan dinding kotak minimal 10 cm.
5. Kompressor Fungsi dari compressor
adalah untuk mengalirkan udara masuk dan bersirkulasi di dalam mesin pendingin.
Debit udara yang di keluarkan compressor bisa bervariasi tetapi pada penelitian
besar debit yang di keluarkan di dapat dari persamaan :
dengan :
Debit udara masuk ke pipa evaporator
: dimana :
jadi,
Debit udara keluar dari pipa
evaporator : dimana :
V = 1,39
m/s (jarak pengukuran anemo terhadap bibir pipa 12 cm)
6. Refrigeran air Air merupakan media
penghantar panas yang efektif oleh karenanya air dingin yang dikabutkan
disemprotkan ke atas permukaan pipa-pipa evaporator agar kalor laten dari air
dapat diserap oleh panasnya udara didalam pipa. Air mempunyai nilai
konduktivitas thermal 0,604 W/m 0K, rapat massa 997 kg/m3 dan kalor spesifik
4,19 kJ/kg. Daya hantar (konduktivitas) thermal dan laju perpindahan kalor
konduktif ditentukan oleh struktur molekul bahan. Semakin rapat dan tersusun
rapinya molekul-olekul, akan memindahkan energi semaikn cepat dibandingkan
dengan susunan yang acak dan jarang. Elektron bebas di dalam struktur air juga
mempertinggi daya hantar thermalnya. Penghantar listrrik yang baik biasanya
juga sebagai penghantar kalor yang baik. Sifat tersebut diatas dimiliki oleh air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar